NEWS

Belanda Komit Kembalikan Benda Budaya Bersejarah Indonesia, Termasuk Berlian Banjarmasin

Sejarawan Caroline mempertanyakan mengapa berlian yang merupakan jarahan perang ini disimpan di museum Belanda. (dok BBC Indonesia)
Sejarawan Caroline mempertanyakan mengapa berlian yang merupakan jarahan perang ini disimpan di museum Belanda. (dok BBC Indonesia)
BAKAWAL, Jakarta - Indonesia dan Belanda mempertegas komitmen bersama dalam pengembalian benda budaya bersejarah milik Indonesia, termasuk Berlian Banjarmasin. Komitmen ini diwujudkan melalui penandatanganan kesepakatan pengalihan hak secara bersama-sama di Indonesia House Amsterdam (IHA), Jumat (9/10) waktu setempat.

Melalui kesepakatan tersebut, kedua negara memperkuat langkah pengembalian 30.190 unit Koleksi Dubois serta 20 benda budaya bersejarah yang selama ini tersimpan di Rijksmuseum dan Wereldmuseum, Amsterdam.

Di antara item yang dikembalikan terdapat objek-objek berharga tinggi, seperti Berlian Banjarmasin, Pedang Sikin Panjang dari Aceh, manuskrip Al-Qur'an terkait Teuku Umar, empat manuskrip Kesultanan Aceh, enam gulungan Wayang Beber, satu panel makam dari Aceh, serta enam batu nisan Batu Aceh. Selain itu, pengembalian Koleksi Dubois mencakup 29.763 objek dan 427 kerangka leluhur (human remains) yang terkait erat dengan penelitian Homo erectus atau Manusia Jawa.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon bersama Menteri Pendidikan, Kebudayaan, dan Ilmu Pengetahuan Belanda Rianne Letschert bertemu secara bilateral untuk menyepakati langkah-langkah strategis ini. Fadli menegaskan bahwa pemulangan artefak-artefak ini merupakan bagian penting dari upaya memulihkan hak bangsa dalam merawat, meneliti, dan mewariskan identitas budaya kepada generasi mendatang.
Berlian Banjarmasin: Jarahan perang, milik Sultan Banjarmasin. (dok BBC Indonesia)

“Koleksi Raden Saleh juga sangat penting bagi Indonesia. Kami ingin melanjutkan kerja sama penelitian dan pembahasan terhadap koleksi-koleksi lain yang masih berada di Belanda, termasuk kerangka leluhur (human remains), agar proses repatriasi dapat terus berjalan berdasarkan kajian sejarah dan ilmiah yang kuat,” ujar Fadli dalam siaran pers Kementerian Kebudayaan di Jakarta, Minggu.

Sebagai bagian dari komitmen berkelanjutan tersebut, kedua negara mendorong penelitian bersama untuk menelusuri asal-usul koleksi Raden Saleh serta kerangka leluhur dalam Koleksi Theodor Verhoeven yang saat ini masih berada di Belanda.

Fadli meyakini Pemerintah Belanda menyambut baik kelanjutan pembahasan pemulangan benda-benda bersejarah ini dan membuka ruang penelitian bersama guna memperkuat dasar sejarah repatriation berikutnya.

Upaya ini menambah panjang rekam jejak repatriasi benda budaya Indonesia. Sejak tahun 1975, Indonesia telah berhasil memulangkan sebanyak 2.338 objek bersejarah dari museum-museum di Amsterdam dan Rotterdam, termasuk Koleksi Pita Maha dan Harta Karun Lombok.
Dukungan Pembaca
Suka dengan artikel ini?

Dukungan Anda membantu tim redaksi terus menghadirkan jurnalisme independen dan berkualitas.