NEWS
Begal Payudara Bisa Picu Trauma, Akademisi ULM Ungkap Dampak Psikologis Korban
BAKAWAL, Banjar - Aksi begal payudara tidak hanya menjadi bentuk pelecehan seksual yang meresahkan, tetapi juga dapat meninggalkan dampak psikologis bagi korban.
Akademisi Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Dr. Emma Yuniarrahmah, S.Psi., M.A., mengatakan korban dapat mengalami berbagai reaksi psikologis setelah menjadi korban pelecehan seksual di jalan.
Di antaranya kecemasan, ketakutan, serangan panik, trauma, menyalahkan diri sendiri, mimpi buruk, hingga gangguan suasana hati seperti depresi.
“Korban bisa mengalami kecemasan, ketakutan, serangan panik mendadak, trauma, menyalahkan diri sendiri, mimpi buruk,” ujar Emma.
Menurutnya, dampak tersebut juga dapat muncul dalam bentuk reaksi fisik. Korban bisa mengalami keringat dingin, jantung berdetak cepat, wajah pucat hingga pingsan.
Selain itu, korban dapat merasa malu, hina atau jijik terhadap dirinya sendiri. Dalam kondisi tertentu, korban juga bisa menarik diri dari lingkungan sosial, kehilangan kepercayaan diri maupun kepercayaan terhadap orang lain.
Emma menjelaskan, rasa takut dan waswas setelah kejadian juga berpeluang berkembang menjadi trauma apabila tidak ditangani dengan baik.
“Berpeluang besar untuk berkembang menjadi trauma apabila ketakutan dan rasa waswasnya tidak tertangani dengan baik,” jelasnya.
Terlebih jika kasus serupa terjadi berulang. Kondisi tersebut dapat membuat perempuan merasa semakin tidak aman ketika beraktivitas di luar rumah.
Korban bisa menjadi lebih curiga terhadap pria yang tidak dikenal, pengendara motor tertentu maupun situasi yang mengingatkan pada lokasi kejadian.
Emma menyebut, sejumlah perubahan perilaku dapat menjadi tanda seseorang mulai mengalami trauma atau kecemasan berlebihan.
Di antaranya gelisah ketika bepergian sendirian, takut mendengar suara motor tertentu, mudah terkejut atau panik ketika mendengar suara keras maupun melihat orang datang secara tiba-tiba.
Korban juga dapat mengalami jantung berdebar, keringat dingin, sesak napas, mual, pusing, menarik diri dari lingkungan sosial, menolak melewati jalan tempat kejadian, perubahan suasana hati hingga menjadi lebih pendiam.
Untuk memulihkan rasa aman, korban disarankan tidak memendam pengalaman tersebut seorang diri. Korban dapat bercerita kepada orang yang dipercaya dan membangun support system.
Emma juga menegaskan, korban perlu memahami bahwa pelecehan yang dialaminya bukanlah kesalahan korban dalam kondisi apa pun.
“Jangan langsung berpikiran bahwa ‘aku akan baik-baik saja’. Ingatkan diri secara berulang bahwa kejadian tersebut 100 persen adalah kesalahan pelaku,” tegasnya.
Jika rasa cemas atau ketakutan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, korban juga disarankan mencari bantuan dari tenaga profesional.
“Jangan memendam trauma sendiri. Jangan ragu untuk bercerita kepada orang yang tepat dan meminta bantuan apabila rasa cemas atau ketakutan sudah mengganggu fungsi harian,” pungkasnya.
Editor:
TIM REDAKSI
TIM REDAKSI